6 Fakta Unik dan Menarik Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih. Nomor 5 Paling Unik!
![]() |
| Pondok Pesantren Ibnul Amin tampak dari atas |
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, nama Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih tentu sudah tidak asing, sebab, banyak alumninya yang bertebaran di berbagai penjuru dan menjadi tokoh di daerahnya masing-masing. Selain itu, Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih merupakan salah satu pesantren yang pernah dipuji oleh Syekh Muhammad Zaini Ghani di majelis beliau, serta pernah dikunjungi oleh Syekh Yasin al-Fadani, seorang ulama besar kaliber internasional dari Mekah. Namun, di tengah kepopulerannya, ada banyak fakta menarik lainnya tentang pesantren satu ini yang belum banyak diketahui masyarakat. Oleh karena itu, penulis rangkum lima fakta menarik tentang Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih. Barangkali saja salah satu pembaca atau keluarga memiliki ketertarikan untuk menimba ilmu di pesantren ini.
1. Salah Satu Pesantren Tertua di Kalimantan Selatan
Pada awalnya, pesantren di Kalimantan Selatan kebanyakan berbentuk majelis taklim dan surau/langgar. Langgar yang dibuat bertingkat memiliki fungsi ganda, selain untuk tempat beribadah dan belajar, ia juga menjadi asrama bagi santri. Pesantren seperti itu dulunya banyak ditemukan di daerah Nagara, Hulu Sungai Selatan. Namun, pesantren dengan bentuk seperti itu sekarang sudah tidak dilestarikan, dan punah tergerus zaman, tetapi sebagian berevolusi menjadi lembaga pendidikan yang lebih terstruktur. Di antara pesantren tua di Kalimantan Selatan yang lestari hingga sekarang adalah Pondok Pesantren Darussalam Martapura, Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah di Amuntai, dan termasuk Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih.
2. Lebih Dikenal dengan Nama Desa daripada Nama Pesantren
Para pembaca mungkin bisa melakukan eksperimen dengan bertanya kepada masyarakat mengenai apa nama asli pesantren Pamangkih? Kebanyakan masyarakat tidak mengetahuinya.Pondok Pesantren Ibnul Amin terletak di desa Pamangkih, Hulu Sungai Tengah. Masyarakat biasa menyebutnya pesantren Pamangkin. Namun tidak banyak yang mengenal nama sebenarnya adalah Pesantren Ibnul Amin. Nama desa lebih melekat dengan pesantren tersebut daripada nama aslinya.
3. Pesantren Tradisional yang Tidak Menganut Sistem Monarki
Sebuah pesantren tak ubahnya seperti sebuah miniatur negara yang di dalamnya ada pemerintah (pengasuh, pengajar, dan staff), dan ada masyarakat (para santri). Dalam sistem kepemimpinan, seringkali pesantren tradisional menggunakan sistem monarki, maksudnya memilih pemimpin berdasarkan garis keturunan atau keluarga. Ketika seorang pengasuh/pimpinan pesantren wafat, penggantinya tidak jauh-jauh dari anak sang mendiang pengasuh atau orang yang memiliki hubungan keluarga, seperti saudara. Namun, Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih, walaupun masih tergolong pesantren tradisional, dalam memilih pemimpin, sistem yang digunakan adalah musyawarah. Terhitung, hingga sekarang ada tiga pemimpin/pengasuh Pondok Pesantren Ibnul Amin. Yang pertama adalah KH. Mahfudz Amin, pendiri dan pimpinan pertama, kemudian setelah ia wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Muchtar HS, murid KH. Mahfudz Amin yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan pemimpin sebelumnya, setelah KH. Muchtar HS wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Sufiyan Suri.Lc hingga sekarang yang juga tidak memiliki hubungan keluarga denggan pemimpin sebelumnya.
![]() |
| KH. Mahfudz Amin, Pendiri Pondok Pesantren Ibnul Amin |
4. Tidak Memiliki Sistem Kelas
Lembaga pendidikan yang kita kenal sekarang, biasanya memiliki sistem kelas. Ketika sudah menyelesaikan pembelajaran di kelas 1 misalnya, ia akan naik ke kelas 2. Namun, di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih tidak demikian. Tingkatan ditentukan dengan kitab. Santri baru akan mempelajari kitab Tasrifan, setelah tamat dan lulus tes, ia akan naik kitab ke Ajurrumiyah, setelah tamat dan lulus tes, ia naik ke kitab Mutammimah, demikian seterusnya sampai dinyatakan lulus ketika sudah menyelesaikan belajar kitab Fathul Mu'in.
![]() |
| Salah satu santri sedang praktek muhadaroh |
5. Memiliki Penyebutan yang Unik
Di pesantren pada umumnya, pengajar dipanggil ustadz, dan pimpinan dipanggil kiyai. Berbeda dengan Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih. Di sana terdapat panggilan yang cukup unik. Pengajar di pesantren, tua atau muda dipanggil kaka, sedangkan pengasuh/pimpinan dipanggil abah, dan istri pimpinan dipanggil mama. Hal ini penulis pikir dapat meningkatkan rasa kekeluargaan di kalangan santri, pengajar, dan pengasuh.
6. Melestarikan Metode Astronomi Tradisional
Dari banyaknya pesantren di Kalimantan Selatan, hanya sedikit yang memiliki mata pelajaran ilmu falak. Di antara yang sedikit tersebut adalah Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih. Di pesantren tersebut, pembelajaran Ilmu Falak dilaksanakan dua tahun sekali, yakni pada bulan Ramadan. Uniknya, metode yang digunakan adalah metode tradisional di dalam kitab Sullam an-Nayyirain. Bahkan peralatan yang digunakan di antaranya adalah rubu' mujayyab yang juga digunakan untuk waktu shalat. Tidak heran, pondok pesantren yang satu ini terkadang menetapkan awal ramadan di hari yang berbeda dengan pemerintah.
Demikian fakta unik Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih yang bisa admin rangkum. Kira-kira, yang mana yang paling menarik menurutmu?
![]() |
| Pembelajaran ilmu falak menggunakan rubu' mujayyab |




Post a Comment for "6 Fakta Unik dan Menarik Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih. Nomor 5 Paling Unik!"
Post a Comment