Tiga Pondok Pesantren di Kalimantan Selatan yang Dikenal Jago Nahwu Sharaf, Nomor 3 Langganan Juara
Kalimantan Selatan merupakan provinsi di Indonesia
yang memiliki jumlah pesantren yang cukup banyak. Menurut data Kemenag tahun
2022, jumlah pondok pesantren di Kalimantan Selatan mencapai 289 lembaga.
Jumlah tersebut mencakup kategori pesantren tradisional dan pesantren modern.
Pesantren tradisional di sini maksudnya adalah pesantren yang fokus
pendidikannya berorientasi pada kitab kuning tanpa ada jenjang formal dan
pelajaran umum, sedangkan pesantren modern merupakan pesantren yang memadukan
antara ilmu pengetahuan umum dan agama, serta memiliki jenjang pendidikan
formal.
Masing-masing dari pondok pesantren di Kalimantan
Selatan tentunya mengajarkan semua cabang keilmuan dalam Islam, namun juga
memiliki keunggulan yang menonjol yang menjadi ciri khasnya. Ada pondok
pesantren yang menonjol dalam kemampuan berbahasa asing secara aktif, ada yang
hebat di bidang nahwu, ada yang hebat di bidang fikih, dan lain sebagainya.
Nah, pada tulisan kali ini, saya akan berbagi mengenai
tiga pondok pesantren di Kalimantan Selatan yang terkenal menonjol di bidang
ilmu nahwu sharaf, cabang keilmuan mengenai tata bahasa Arab yang menjadi dasar
dalam membentuk kemampuan membaca kitab kuning. Apa yang saya bagikan di sini
berdasarkan pengalaman pribadi, pengalaman belajar di salah satu lembaga yang
disebutkan, dan pengalaman bergaul dengan alumninya. Jadi langsung saja ke
urutan pertama...!
1. 1. Pondok
Pesantren Ibnul Amin, Desa Pamangkih, Hulu Sungai Tengah
Pondok Pesantren Ibnul Amin, terletak
di Desa Pamangkih, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Didirikan pada tahun 1959 M oleh KH. Mahfudz Amin bin KH. Ramli, seorang ulama
asli desa Pamangkih yang lama menuntut ilmu di Nagara (Hulu Sungai Selatan),
Martapura, dan Mekkah.
Pondok Pesantren Ibnul Amin bisa
dikatakan memiliki sistem yang unik. Di dalamnya tidak ada tingkatan kelas.
Setiap santri dibimbing oleh seorang guru untuk belajar kitab secara bertahap
sampai tamat dan lulus dari pesantren. Santri baru diwajibkan belajar dan
menghafal kitab Tasrifan, kitab yang disusun oleh pendiri pesantren langsung
selama minimal 2 bulan setengah dan maksimal tidak ada batasan, kemudian
setelah lulus kitab Tasrifan, santri tersebut diwajibkan belajar dan menghafal
kitab Ajrumiyah minimal selama tiga bulan dan maksimal tidak ada batasan,
setelah lulus kitab Ajrumiyah, maka dilanjutkan dengan belajar dan menghafal
kitab Mutammimah selama satu tahun. Begitulah seterusnya, setelah tamat satu
kitab, berlanjut kepada kitab lainnya. Tak heran, para alumni pondok pesantren
ini dikenal mumpuni di bidang ilmu nahwu sharaf dan baca kitab.
2. 2. Pesantren
Mura’atullughah, Martapura
Pada awalnya, pesantren ini memiliki
nama pesantren Masykuriyah, kemudian berganti nama menjadi Mura’atullughah.
Lembaga pendidikan Islam yang berfokus pada pendidikan ilmu alat ini didirikan
oleh KH. Annur Hidayatullah, seorang ulama yang berasal dari Hulu Sungai Utara,
dan merupakan alumni dari Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih.
Di pesantren ini, para santri
difokuskan untuk belajar ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, sharaf, balaghah,
mantiq, dan lain sebagainya. Pembelajaran dibagi menjadi kelas-kelas dan
tingkatan yang berbeda, dan mereka tidak tinggal di asrama yang disediakan oleh
pesantren, tetapi tinggal masing-masing di kost, atau rumah, sebab, para santri
yang belajar di pesantren ini merupakan pelajar dari lembaga lain yang berniat
ingin memperkuat pengetahuan ilmu alat.
3. 3. Pondok
Pesantren Darussalim, Bati-bati
Bagi kalangan yang sering mengikuti
MQK (Musabaqah Qiraatul Kutub) pastinya tidak asing lagi dengan nama pesantren
ini, bagaimana tidak, pesantren ini langganan menjadi juara umum lomba baca
kitab kuning di Kalimantan Selatan. Didirikan pada tahun 1967 M dengan pimpinan
pertama adalah KH. Sanusi. Berlokasi di desa Bati-bati, Kecamatan Bati-bati,
Kabupaten Tanah Laut. Di pesantren ini, santri dididik secara berjenjang dari
Raudhatul Athfal hingga Aliyah. Selain itu, lembaga ini menerapkan sistem PDF
atau Pendidikan Diniyah Formal, sehingga ijazahnya bisa disetarakan dengan
lembaga pendidikan formal. Pesantren Darussalim dikenal karena prestasi para
santrinya di bidang lomba baca kitab kuning, baik di tingkat regional, atau
nasional.
Demikian tiga pesantren di Kalimantan
Selatan yang terkenal keilmuannya di bidang nahwu sharaf.




Post a Comment for "Tiga Pondok Pesantren di Kalimantan Selatan yang Dikenal Jago Nahwu Sharaf, Nomor 3 Langganan Juara"
Post a Comment